Selasa, 17 Juni 2008 03:51

Setelah Lulus, Mau Kemana?

Tanjungpandan (WP), setelah mengetahui dirinya lulus, Tatang Siswa SMAN 1 Tanjungpandan ingin melanjutkan ke Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAIN). “ menjadi pegawai negeri “ katanya bersemangat. Kalau ke STAN kan kita bisa menjadi pegawai negeri.Tetapi siswa lain malah bingung mau ke mana setelah lulus. Meskipun kemarin (15/6 ) mereka meluapkan suka cita, corat-coret baju dan berkonvoi menarik perhatian dengan kendaraan bermotor melintasi Kios Bensin Eceran yang baru saja antri mendapatkan bensin di SPBU . Dari 236 rekan mereka, siswa SMAN 1 Tanjungpandan yang tidak lulus berjumlah 4 orang. Persentase kelulusan SMA di Kabupaten Belitung jurusan IPA sebesar 56,41%, IPS sebesar 46,00%, Sekolah MA malah persentase kelulusan hanya 8,89%. Memang masih ada kesempatan bagi mereka yang tidak lulus, pada tanggal 24- 27 Juni nanti mereka bisa mengikuti Ujian paket C . Andaikata mereka tidak lulus juga, mereka bisa mengulang tapi hanya materi yang tidak lulus dan tidak perlu mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Dengan demikian tidak mempengaruhi daya tampung sekolah “ Kata Kepala Dinas Pendidikan, Sumardi,SPd. Sementara berita kelulusan SD/SMP baru diumumkan 21 Juni 2008. Disisi lain banyak siswa yang tidak lulus membuat siswa dan orang tua tidak berkecil hati. Gagal dalam Ujian Nasional adalah keberhasilan yang tertunta. Total peserta yang mengikuti Ujian Nasional Tingkat SMA, SMK dan MA di Kabupaten Belitung berjumlah 1335 peserta yang tidak lulus sebanyak 721 peserta (54,01%) yang lulus mencapai 615 peserta atau 46.07%. Jika tingkat SD peran Wali Kelas menonjol, tetapi di tingkat sekolah menengah atas peran guru bidang justru yang menentukan kelulusan siswa. “Banyak upaya yang untuk memotivasi siswa seperti Try Out dan penambahan jam pelajaran “ kata Irfan Mauran, Kepala Bidang SM/MA Dinas Pendidikan. “Selain itu akreditasi dan sertifikasi guru “ tambah Sumardi SPd, Kepada Dinas Pendidikan . Bupati Ir. Darmansyah Husein memberikan Beasiswa Prestasi secara simbolis kepada murid SD sebanyak 256 murid, SMP/MTS 120 murid, SMA/MA 57 siswa dan Beasiswa Siswa Kurang Mampu untuk SMP 400 siswa dan SMA/SMK 600 siswa untuk membangkitkan semangat meraih pendidikan pada saat memperingati Hari Kebangkitan Nasional, Pendidikan Nasional dan Hari Otonomi daerah beberapa waktu yang lalu di halaman Gedung Nasional. “Koordinasi memang mudah diucapkan tetapi sulit dilakukan “ keluh Irfan Mauran. Kualitas pendidikan memang tidak ditentukan dari tingkat kelulusan saja. Pendidikan menekankan sisi afektif (perubahan sikap anak didik), kognitif (pengetahuan) dan psikomotorik. Pendidikan tidak hanya terpaku pada persoalan kebijakan. “kita nanti akan turun memantau di lapangan, memantau guru –guru bidang studi baik dari sisi kualifikasi, penguasaan materi maupun penguasaan kurikulum”, kata Irfan Mauran berencana. Lantas kenapa kesenjangan kelulusan antara Sekolah Negeri dan Swasta terlalu lebar? Kebijakan pendidikan memang tidak memandang swasta ataupun negeri. Memang ada kecenderungan siswa swasta di Kabupaten Belitung tidak memiliki mekanisme yang seketat sekolah Negeri. Setidaknya ini menjadi tolak ukur untuk mengevaluasi kinerja sekolah-sekolah swasta. Proses pemberitahuan kelulusan Setelah menerima sms kelulusan, siswa SMAN 2 Tanjungpandan tak pelak bersuka Cita. Sebagian menggunakan amplop “suka cita “ kepada murid. Berita kelulusan sejenak memberikan pencerahan namun jalan masih panjang. Mau kuliah atau mau mencari pekerjaan, kedua-duanya sama-sama sulit. Dinas Pendidikan Provinsi setiap tahunnya mendistribusikan Laporan Nilai Ujian Nasional seluruh sekolah di wilayah Bangka Belitung ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Pada tahun 2008 ini sebanyak 87 siswa yang tidak lulus Ujian Nasional, tiga sekolah swasta yakni MAN, MA Darul Arogah dan SMA Pergib bahkan memiliki persentase kelulusan 0,00 persen. Ditengah tuntutan beberapa daerah untuk meningkatkan anggaran pendidikan. Irfan Mauran menilai permasalahan dana tidak menjadi faktor utama yang menentukan, yang perlu ditekankan justru bagaimana KBM berjalan dengan efektif. Persoalan jarak jangkau, transportasi, untuk guru dan penghargaan terhadap guru sebenarnya tidak seperti dulu. Kesadaran mendidik sebagi panggilan jiwa dan kewajiban dahulu lebih menonjol dibandingkan sekarang. Apalagi dari sisi kecukupan materi, baik siswa maupun guru sudah lebih baik. Bagaimanapun kata Irfan, produk guru adalah kualitas anak didik.Ini membutuhkan kerjasama berbagai pihak termasuk bidang-bidang yang ada di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Belitung ini. “Guru dari sekian guru ya itu penilik (pengawas)”, kata seorang pensiunan guru yang masih sering disapa Pak Guru. Koordinator Pengawas S.Simanjuntak, Spd menegaskan pelaksanaan pengawasan mutu sekolah selama ini mengacu pada Kepmen Pan No 118/1996 tentang Tupoksi Pengawas yakni untuk melakukan pembinaan, penilaian dan pelaporan. Aspek pembinaan itu meliputi supervisi akademis dan supervisi managerial. “Tapi untuk kasus Pergib dan MAN kita belum menganalisa lebih lanjut”, jelas Staff Pengawas SMP/SM, Hamrin . ”Kita menyadari tingkat kelulusan ini dipengaruhi banyak faktor yang cukup komplek. Seleksi penerimaan siswa yang masuk ke SMA misalnya adalah awal dari pentingnya pengawasan. Pengawasan itu seharusnya lebih ketat untuk hasil seleksi yang tidak memadai, kata Simanjutak realistis. S.Simanjuk Koordinator Pengawas SMP/SM. Simanjuntak menilai ada tiga proses yang menjadi faktor penyebab ketidaklulusan siswa, yakni proses, mental siswa dan sarana dan prasarana. Senada dengan Irfan Mauran, Simanjuk menilai proses (KBM) yang kurang memadai ini yang sering menghasilkan persentase kelulusan menjadi nol persen. Proses ini tidak hanya menyangkut peran guru tetapi siswa dan orangtua sendiri. “ Bahkan kita pernah menghentikan Guru D3 Kimia yang mengajar Bahasa Inggris “(fithrorozi). Sumber: