Rabu, 21 April 2010 09:55

AKSI DEMO WARNAI PERINGATAN KARTINI

Tanjungpandan—Semarak peringatan hari kartini yang setiap tahunnya kita peringati pada tanggal 21 April 2010 sebagai Hari kelahiran RA Kartini sebagai tokoh pejuang emansipasi perempuan selalu ramai kita peringati. Hal ini tak lain untuk mengingat jasa-jasa RA Kartini dalam menegakkan dan memperjuangkan hak perempuan Indonesia terutama dalam hal nmendapatkan kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk memperoleh pengajaran, perlakuan yang adil dalam setiap aspek kehidupan tanpa menghilangkan peran esensinya sebagai ibu yang menjadi madrasah bagi anak-anaknya.

Suasana Peringatan hari kartini di Kabupaten Belitung diwarnai dengan kegiatan aksi demo yang berlangsung damai di Halaman Kantor Bupati  Belitung oleh Forum Peduli Moral Bangsa (FPMB), Yayasan Bina Ul Ummah, Yayasan Bina Insani, Lembaga Dakwah Sekolah Gemar, Bidang Kewanitaan PKS dengan tujuan untuk menyuarakan aspirasi dalam menyikapi realita yang terjadi pada saat ini.

Kedatangan para rombongan disambut baik Pemkab Belitung yang pada kesempatan ini diwakili Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Karyadi Syahminan, SE, dan turut dihadiri pula oleh Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintah Desa, Perempuan & KB, Dra. Hotmaria Ida, Kadin Kebudayaan dan Pariwisata Drg. Hj.Dian Farida, Kadin Pendidikan, Drs. Rafeli, Kepala Badan Kesbanglinmas & Pol, Hendro Gupito, SH, Kepala Satpol PP, Azhar, S.Ip, Kabag Hukum dan Organisasi, Achmad Zainal, SH, Kabag Kesejahteraan Rakyat, Ahyat Ad, serta Kasubbag Hubungan Lembaga Bagian Humas, Desy Resmita, S.Sos.

Dalam aspirasinya para pengunjuk rasa menyuarakan kondisi real masalah kemaksiatan di Belitung yang cukup memprihatinkan dengan merebaknya berbagai kasus yang terjadi, salah satunya menyangkut masalah trafficking yang banyak menimpa kaum perempuan, ditambah maraknya perkembangan tempat-tempat prostitusi dan muara akhirnya berimbas pada tingkat perceraian yang sangat tinggi yakni mencapai 694 kasus sepanjang tahun 2009, artinya ada 58 kasus perceraian dalam satu bulan atau lebih kurang 2 kasus penceraian yang terjadi dalam 1 hari dan hampir 90% akibat kasus perselingkuhan ditempat-tempat maksiat.

Santernya berita kemaksiatan yang terjadi di Kabupaten Belitung tentunya memunculkan berbagai aksi dan reaksi dari berbagai pihak. Hal ini tentunya akan mempengaruhi setiap aspek dan sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dalam pertemuan ini, para pengunjuk rasa berharap kiranya Pemerintah dapat lebih memperhatikan kondisi yang terjadi dengan melakukan berbagai upaya secara berkesinambungan, salah satunya melalui penggiatan razia, memperketat perizinan, baik masalah pendirian cafe ataupun masalah peredaran miras serta upaya-upaya lainnya agar masalah kemaksiatan dapat segera diminalisir, ungkap salah satu anggota perwakilan.

Menyikapi persoalan yang terjadi, saat ini Pemkab Belitung telah melakukan berbagai upaya terkait diantaranya dengan melakukan razia rutin, memberlakukan Perda Miras serta upaya-upaya lainnya terus ditingkatkan lagi agar persoalan yang terjadi dapat segera ditindaklanjuti bersama.

Untuk mengatasi masalah ini tentunya diperlukan kerjasama dan koordinasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat luas, karena hal ini menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama untuk dapat bahu membahu mengatasi berbagai persoalan yang terjadi untuk membangun Belitung ke arah yang lebih baik .

Selesai melakukan orasi dan menyuarakan aspirasinya, para pengunjuk rasa bertolak meninggalkan Kantor Bupati Belitung menuju jalan di sepanjang kantor DPRD Kabupaten Belitung dengan membawa spanduk yang bertuliskan “Selamatkan Belitung dari Kemaksiatan”.
Sumber: Dari Berbagai Sumber