Senin, 23 Juni 2008 02:41

HJT ke-170 gelar pentas seni sepanjang Jalan

Tanjungpandan (WP), sejumlah tokoh masyarakat seperti Nasir AB, Mahdani Miram, KA.Rustam, Achmad Hamzah, Muspida, Kepala SKPD, Camat Tanjungpandan, Camat Membalong dan sejumlah Kades di wilayah kecamatan Tanjungpandan berkumpul di ruang Sidang Pemkab Belitung pada tanggal 20 Juni 2008 sehubungan dengan persiapan peringatan 170 tahun Hari Jadi Kota Tanjungpandan (HJKT) yang jatuh pada tanggal 1 Juli. Pada tanggal 1 Juli 1838 (170 tahun yang lalu), KA.Rahad diangkat Administrateur Belanda sebagai Raja Pulau Belitung (wet tige Depati) dengan titel Depati Cakraningrat. Guvernement memberi tulage f.600,- (enam ratus rupiah) beserta 81½ picol beras dan 90 picol ( 1 picol = 62.5 kg) garam tiap-tiap 3 bulan yang diberikan oleh Tuan Kongsi (Administrateur), Toboali (Bangka). Selain HJKT, 1 Juli 2008 juga bertepatan dengan hari Bhayangkara. “Dulu di era Pak Djarot (Lanud Tanjungpandan) kegiatan HJKT dipusatkan di pusat kota, simpang lima, namun kini kondisinya tidak lagi memungkinkan”, Nasir AB yang akrab dipanggil Nasir Canggai berkisah. Sebelumnya beberapa desa sudah lebih dahulu melaksanakan HJKT “desa/kelurahan di wilayah Kecamatan Tanjungpandan memang sudah lama dihimbau agar berpartisipasi dalam peringatan HJKT. Ini memomentum menghidupkan kembali seni budaya yang ada dimasyarakat desa/keluruhan seperti berzanzi ataupun lomba Hadrah”, kata mantan Camat Tanjungpandan Suharyanto, BA. Persiapan menjelang peringatan HJKT ke-170 ini seperti biasanya diawali dengan Sidang Paripurna DPRD Peringatan HJKT, Pemberian Penghargaan kepada masyarakat yang berprestasi, ziarah ke Makam KA.Rahad (Depati Cakraningrat VIII), pentas seni tradisional sepanjang Jalan A.Yani yang dimulai dari Lapangan Bola Keramik hingga halaman GOR Tanjungpandan. Peringatan HJKT merupakan momentum untuk meluruskan dan menghargai sejarah perkembangan daerah. Beberapa bulan terakhir memang banyak kritikan penyelenggaraan Maras Taun yang sudah menyimpang dari tradisi masa lampau yang terkesan seperti berlomba-lomba mencetak rekor lepat yang paling besar. Padahal lepat menunjukan berhasil tidaknya panen padi ladang tahun itu. Hal yang sama terjadi ketika ada rencana ingin menampilkan Campak Darat diatas panggung, setahu saya sejak saya kecil Campak itu tidak pernah dipentaskan di atas panggung, ujar Nasir AB. “ Namun setiap tahun kita berharap ada hal yang lebih baik, jangan sampai semarak HJKT tenggelam dengan spanduk-spanduk calon Bupati/Wakil Bupati” kata mantan Anggota DPRD dari Partai Golkar Nasir AB menghimbau. Senada dengan Nasir, Kabag Tata Pemerintahan Setda Kabupaten Belitung, Sahani Saleh yang juga mantan Ketua KNPI menekankan momentum HJKT ini setidaknya mengingatkan kita terhadap objek bersejarah di Tanjungpandan seperti rimbunan pohon pandan yang mengelilingi Batu diujung kawasan wisata pantai Tanjungpendam yang menjadi inspirasi nama Tanjungpandan. Peringatan HJKT ke 170 kali ini akan dimeriahkan oleh sejumlah seni tradisional mulai dari Beripat-Beregong, Begubang, Campak Darat, Stambul Fajar, Dul Mulok, Betiong dan seni budaya lainnya di 10 lokasi pertunjukan antara lain di halaman Rumah Adat Belitong dan Halaman Gedung Karang Taruna Tanjungpandan. Acara ini akan berlangsung pada malam 1 Juli 2008 disepanjang jalan A.Yani (fithrorozi) Sumber: