Rabu, 12 Mei 2010 09:27

DUSUN BALITUNG GELAR PEKAN WISATA NEGERI LASKAR PELANGI

Sijuk—Dalam rangka memeriahkan hari besar keagamaan umat Hindu yakni, Hari Galungan dan Kuningan yang dirayakan umat Hindu pada Rabu (12/5), masyarakat Dusun Balitung, Desa Sijuk akan menggelar Pekan Wisata Negeri Laskar Pelangi yang akan berlangsung selama 10 hari. Prosesi perayaan ini dimulai dengan upacara di rumah masing-masing pada pagi hari dilanjutkan upacara di Pura Puseh Giri Jati pukul 09.00 WIB.

Acara pembukaan akan digelar pada Rabu malam, Tanggal 12 Mei 2010 di Pura Puseh Giri Jati yang rencananya akan dihadiri Gubernur babel, Eko Maulana Ali, Bupati Belitung, Ir.H.Darmansyah Husein, para muspida, Jajaran di Lingkungan Pemkab Belitung dan rovinsi Babel, segenap pejabat daerah serta masyarakat sekitar.

Pekan wisata ini akan menampilkan beragam kesenian daerah yang ada di Belitung, termasuk kesenian khas Bali yang dilestarikan warga Dusun Balitung. Dalam acara juga akan berlangsung penganugerahan gelar adat kepada Gubernur dan Bupati.

Galungan adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan “Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan.” Artinya, Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. Jadi Galungan itu dirayakan, setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara, Sapta Wara dan Wuku. Kalau Panca Waranya Kliwon, Sapta Waranya Rabu, dan wukunya Dungulan, saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan.

Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan: Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya, artinya; Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka.

Perayaan Galungan dan Kuningan bertujuan mengingatkan umat Hindu agar senantiasa memenangkan dharma dalam kehidupan sehari-hari. Dharma adalah kecenderungan Trikaya parisuda yang disebut sebagai Dewa Sampad, sedangkan kebalikannya, yaitu Adharma adalah kecenderungan sifat dan prilaku keraksasaan atau Asura Sampad.

Sanghyang Tiga Wisesa berwujud sebagai Bhuta Dungulan, Bhuta Galungan dan Bhuta Amangkurat adalah symbol Asura Sampad yang ada dalam diri setiap manusia, yaitu kecenderungan ingin lebih unggul (Dungul), kecenderungan ingin menang dalam pertikaian (Galung), dan kecenderungan ingin berkuasa (Amangkurat).
Sumber: Humas Setda Kab. Belitung