Jum'at, 11 Juni 2010 09:52

BATU BURUNG GARUDA/KELAYANG IKON BELITUNG

(Tanjungpandan). “Belitung mesti miliki ikon yang khas, unik dan orisinil” ungkap Wabup Belitung, Sahani Saleh, S.Sos. kepada Bupati Belitung Ir.H.Darmansyah Husein, saat rehat disela-sela peninjauan stand pameran sambil minum air kelapa hijau di sebuah pondok pada Pekan Wisata Kecamatan Sijuk 2010, di Pantai Tanjung Kelayang hari Kamis kemarin, 10 Juni 2010.

 “Ya, saya setuju sekali dengan ide yang digagas Pak Wabup, sudah semestinya kita memiliki ikon sebagaimana yang dipunyai oleh banyak Negara di dunia maupun daerah lainnya di Indonesia” ujar Bupati Belitung Ir.H. Darmansyah Husein menimpali. Ide akan ikon Belitung ini seketika menjadi pembicaraan hangat di siang Pekan Wisata Sijuk.

Lebih lanjut, Sahani Saleh, S.Sos yang akrab dipanggil masyarakat Belitung dengan panggilan “Pak Sanem” ini menjelaskan bahwa ikon yang tepat untuk Belitung adalah Burung Garuda atau yang dikenal masyarakat sebagai Burung Kelayang yang berada tak berapa jauh dari pinggiran Pantai Tanjung Kelayang-Desa Keciput Sijuk.

“Kepala Burung Garuda itu (sambil menunjuk ke arah batu besar yang ditumbuhi rumput/tanaman liar diatasnya yang menyerupai kepala burung kelayang/garuda dengan jambul di kepala) tidak ada duanya didunia, hanya satu-satunya di Belitung dan asli pula maha karya Tuhan Yang Maha Esa”, jelas Pak Sanem.
Setiap wisatawan yang datang ke Belitung tidak akan afdol jika belum datang, melihat, berfoto atau mendekat di batu granit besar mirip Burung Garuda itu. Inilah arti penting sebuah ikon bagi suatu daerah, apalagi bagi Belitung yang sedang gencar-gencarnya menggalakkan sektor pariwisata.

Jika kita bertandang ke Singapura, maka belum lengkap rasanya bila belum berfoto di depan Patung Singa Putih dengan air mancurnya, ke Thailand dengan Pagodanya, ke Malaysia dengan Twin Towernya, Ke Bali dengan Kutanya, Ke Jakarta dengan Monasnya, Ke Yogyakarta dengan Prambanannya, Ke Pontianak dengan Tugu Kathulistiwanya dan seterusnya.

“Begitu pula hendaknya dengan Belitung, ikonnya harus khas dan jangan sama dengan daerah lainnya, kita mesti punya ikon juga,” tegas Pak Sanem dengan antusias dihadapan pers dan anggota Dewan, Mahadir Basti serta Camat Sijuk Anas Narsito dan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan KB Belitung Dra. Hotmaria Ida, yang ikut serta dalam rombongan.

Sedikit berkisah, konon katanya batu ganit besar yang diyakini oleh banyak ahli sejarahwan, arkeolog, dan peneliti berasal dari zaman megalitikum tersebut mempunyai kekuatan mistis. Hikayat dan mitos yang diceritakan satu generasi ke generasi Belitung lainnya menyebutkan bahwa Burung Garuda/Kelayang yang sedang berendam di perairan Pantai Kelayang posisinya selalu menghadap ke arah Kiblat-(barat-red).

Ada batu besar bertumpuk diatasnya sebagai kepala dan leher serta paruh burung lengkap dengan kepak sayap dan tumbuhan liar disisi atas sebagai jambulnya. Batu-batu yang saling bertengger satu dengan yang lainnya tersebut tidak bergeser dan selalu berada pada titik konstan, menandakan bahwa Belitung aman dari gempa dan jenis pergeseran lempeng alam lainnya. Jadi, hanya dengan suatu kekuatan besarlah yang bisa menyebabkan batu besar sebagai kepala burung tersebut jatuh ke tanah. Karena itu, alamat kiamat datang jika batu itu jatuh kebumi. Wala hualam bisauwab.

Believe it or not, lepas dari cerita tersebut, bentuk batu alam yang terletak tak berapa jauh dari pinggir Pantai Tanjung Kelayang tersebut memang 100% indah sekali bentuknya, artistik, dan original. Suatu kali di pertengahan tahun lalu sedikit tukar cerita, teman saya datang jauh-jauh dari Italia, bernama Giandrea Ricci, jurnalis dan periset Politik dari sebuah koran terkemuka di Italia, ITALIANO NEWS, hanya untuk menyaksikan lebih dekat bahwa batu itu benar-benar ada di Belitung, pulau yang ngak ada dalam peta dunia katanya. Karena sebelumnya dia terpukau dengan foto yang saya kirim kepadanya berikut cerita tentang Belitung sebagai negeri Laskar Pelangi yang saya tulis dalam dua bahasa, (Belitong dan Inggris) untuknya.

Satu kata darinya setelah lama tertegun, “FANTASTIC”. Ya…..Belitung memang fantastik. Jika setuju dengan satu kata ini dan setuju dengan ide Pak sanem untuk ikon Belitung tersebut, mari kita jaga keindahan alam yang kita miliki, dimulai dengan tidak membuang sampah sembarangan di area wisata publik dan tidak melakukan vandalisme sebagaimana yang dihimbau Bupati Belitung kepada masyarakat serta wisatawan  saat membuka Pekan Wisata Sijuk tersebut. Chayo..(posting by Zakina…Public Relation Officer Of Belitung Regency The Rainbow Troops Country).

Sumber: Humas Setda Kab. Belitung