Sabtu, 19 Juli 2008 07:43

Karena Bensin Langka, Bupati Sidak SPBU

Tanjungpandan (WP), Sam mendorong sepeda motornya, sudah dua kios bensin eceran yang dilewatinya namun tidak satupun yang menjual bensin. Padahal pasokan dari kilang minyak Joint Bersama (Jober) Pertamina tidak mengalami hambatan. Setiap harinya dua mobil tangki bermuatan masing-masing 5000 liter bensin sudah disalurkan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang di Tanjungpandan seperti biasa. Kelangkaan bensin yang berjalan kurang lebih tiga hari membut Bupati Ir.Darmansyah Husein melakukan inspeksi mendadak menjelang siang, Sabtu (19/7) ke beberapa SPBU. Berdasarkan informasi yang diterima Bupati Belitung distribusi BBM (baik bensin maupun solar) dari Jober ke SPBU tidak mengalami kendala. Oleh karena itu didampingi Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Nuhadi,SIpem, Kasat Pol PP Ansyorini, Kabag Ekonomi Mustafa S.Sos, Camat Tanjungpandan Azhar Sip mengadakan sidak ke beberapa SPBU. “pasokan BBM dari Jober tidak mengalami kendala, setiap hari dipasok 1000 liter bensin. Rata-rata setiap hari ada 50 motor dan 30 mobil antri di SPBU dekat kantor Camat Tanjungpandan ini “petugas SPBU Sugito. Sementara antrian SPBU di jalan Gatot Subroto setiap hari bisa mencapai lebih dari 70 motor. Antrian ini berdampak terhadap kenyamaan pemakai jalan, karena antrian mobil yang panjang mengurangi ruas jalan. Kelangkaan bensin yang diikuti dengan panjangnya antrian di beberapa SPU diduga karena banyaknya “pengerit” yang menjual bensin ke luar Tanjungpandan. Di Membalong misalnya masalah hukum yang kini dihadapi APMS membuat pelayanan ke masyarakat tidak optimal. Menurut Daeng Baharudin yang memiliki 4 motor ketika menjawab pertanyaan Bupati menjelaskan bahwa munculnya motor bertangki besar (kapasitas 15 liter) menunjukkan besarnya peluang ngerit BBM (Bensin) ditengah kesulitan ekonomi, apalagi jumlah motor yang masuk (didatangkan oleh dealer) tidak sepadan dengan jumkah BBM (bensin) yang dipasok ke Pulau Belitung. Daeng memastikan dirinya tidak menimbun BBM. Bensin tidak dijual ke industri kecuali nelayan, tapi dirinya mengakui keuntungan yang didapat membuat banyak warga yang ingin membeli motor tangki besar sekalipun dengan cara kredit. “ Kalau harga resmi per liter Rp. 6.000 lalu dijual Rp.7.000 kita bisa maklum tetapi ada yang dijual sampai Rp.8.000 bahkan lebih. Ini sudah diluar kewajaran “ kata warga yang tidak ingin disebutkan namanya. “ lama antrian untuk 2-3 liter seperti kami sama dengan mereka yang 3-4 rit mengisi tangki besar (15 liter)” keluh warga lainnya. Selain bensin ada banyak warga yang mengantri solar untuk keperluan operasional tambang mereka. “Jangan ditambah-tambah” tegas Bupati ketika petugas di SPBU Pangkalalalng mengatakan beberapa konsumen mendesak menambah jatah pasokan. Rizal warga yang sudah dua jam antri berharap sidak seperti ini perlu dilakukan selain untuk menjaga ketertiban juga untuk melindungi hak masyarakat. Bupati menekankan hasil inspeksi ini harus ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan instansi agar tidak merugikan masyarakat lain. Sementara di pusat kondisi keterbatasan BBM diakui akan membebani keuangan pemerintah dalam mensubsidi bahan bakar minyak (BBM) yang dikomsumsikan oleh sektor transportasi. Untuk meringankan beban pemerintah tersebut maka salah satu solusi yang dimungkinkan adalah melalui pembatasan volume BBM yang bersubsidi serta mengurangi secara bertahap nilai (rupiah) subsidi pada setiap liter yang di komsumsi oleh sektor transportasi tersebut (fithrorozi). Sumber: