Selasa, 14 September 2010 09:01

SEMARAK LEBARAN DI KOTA SERIBU WARUNG KOPI

(MANGGAR), Meriah, sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana lebaran di Kota Seribu Warung Kopi, Manggar. Sejak takbir berkumandang di akhir Ramadhan hingga hari keempat lebaran, tampak banyak kendaraan hilir mudik di jalan raya protokol seputar Kota Manggar. Situasi sedikit berbeda dari hari biasanya karena Kota Manggar sedikit ramai sehingga lebaran tahun ini terkesan meriah dan semarak, apalagi selama sebulan Ramadhan Pemkab Beltim menggelar Bazar Ramadhan yang menjual berbagai kebutuhan sandang dan pangan masyarakat menjelang Idul Fitri.

Di sisi lain, banyak pemudik yang datang dari  luar daerah seperti dari Jakarta, Kalimantan, Bangka, Bandung dan kota besar lainnya untuk berlebaran dan bersilaturahim dengan sanak-keluarga di Manggar. Iman misalnya, sejak H-2, ia bersama keluarganya sudah tiba di Manggar. Harga tiket pesawat yang melonjak, dua sampai tiga kali lipat tidak membuat urung niatnya untuk berlebaran di Manggar setelah sepuluh tahun lebih tidak pernah menikmati suasana lebaran di Manggar, tanah kelahirannya. ”Lebaran sangat terasa nikmatnya, kental dengan ikatan tali kasih dan persaudaraan, di Jakarta saat lebaran jalan raya sangat sepi dan lengang tapi di Manggar justru sebaliknya, ramai dan terkesan meriah saat takbiran dan hari H-nya”, ungkap Iman.

Lain halnya dengan Iman, Lisda pemudik dari Bangka mengungkapkan bahwa ia dan keluarganya beruntung karena harga tiket kapal laut dari Bangka tidak mengalami kenaikan. Malam takbiran ia dan keluarganya baru tiba di Manggar sehingga bisa merayakan hari kemenangan bersama dengan keluarganya.

Lebaran memiliki makna yang amat luas, karena menyangkut hubungan ke atas dengan Sang Pencipta setelah sebulan lamanya mensucikan diri dan juga hubungan dengan sesama manusia sehingga Lebaran adalah media yang sangat tepat untuk menjaga hati agar tetap rendah diri. Mohon maaf lahir dan bathin Minal-Aidin Walfaizin ucap satu dengan lainnya. Oleh sebab itu, tak heran jika Iman dan Lisda bersemangat untuk lebaran di kampung halamannya, tak peduli berapa besar biaya yang dikeluarkan atau berapa besar resikonya. Dan juga tak peduli jenis trasportasi apa yang digunakan, kapal udara maupun udara, sama saja yang penting dapat berlebaran di Manggar.

Kemeriahan lebaran juga mewarnai obyek-obyek wisata yang ada di Manggar, seperti Pantai Nyiur Melambai dan Pantai Burung Mandi-Mengkubang. Libur lebaran ini dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengunjungi berbagai tempat wisata menarik dan berekreasi bersama keluarga. Sekalipun di hari libur lebaran ini, tempat wisata seperti Pantai Burung Mandi dikenakan biaya masuk sebesar Lima Ribu Rupiah per orang namun tidak menyurutkan keinginan masyarakat untuk menghabiskan waktu di tempat dimaksud.

Pantauan di lapangan, sampai dengan hari Senin kemarin, suasana warung-warung kopi Manggar masih tetap ramai didatangi pelanggan. Sedangkan pasar tradisonal belum begitu ramai meskipun aktivitas jual-beli telah dilakukan sejak hari kedua idul fitri, demikian juga aktivitas transportasi umum di terminal Manggar belum seperti hari-hari biasa. Hal ini disebabkan banyaknya bis yang disewa masyarakat untuk mengakomodir kebutuhan rekreasi mereka di hari Lebaran. Demikian hasil pantauan, dari Kota Manggar Humas Pemkab Belitung melaporkan.*** (Zakina)
Sumber: Humas Setda Kab. Belitung