Selasa, 14 September 2010 09:02

Gi naggok (mencari ampau lebaran)

Tanjungpandan--Tradisi nanggok atau mencari ampau lebaran memang menjadi trend dikalangan anak-anak Belitong menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri. Saat lebaran datang para bocah yang umumnya masih anak-anak usia sekolah ini berlomba-lomba mencari ampau lebaran. Saking semangatnya kadangkala si bocah tak segan menempuh perjalanan jauh mengintari kampong ke kampong demi si ampau yang mereka kumpulkan.

Ampau memang menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu sibocah pada saat lebaran tiba. Ampau seakan mengalahkan segala suguhan makanan dan minuman yang terhidang, Meskipun ampau yang mereka dapat kadangkala tak sebanding dengan kelelahan yang didapat saat mengintari jalanan bertandang dari rumah ke rumah, Namun para bocah tetap semangat mengumpulkan lembaran uang ribuan yang bagi sianak dinilai sebagai kebiasaan yang paling menarik.

Tradisi gi nanggok memang masih sering kita jumpai di lingkungan masyarakat Belitung, bagi anak-anak kebiasaan ini menjadi hal yang paling dinanti menjelang lebaran, sementara bagi para pemberi ampau, kebiasaan ini dapat dijadikan momen untuk beribadah dengan menyisihkan sebagian harta yang dimiliki untuk dibagi-bagikan.

Salah seorang bocah bernama Diki yang kami temui saat sedang asyik menghitung ampau yang didapatnya setelah kurang lebih setengah hari berjalan mengintari kampung mengaku senang mengumpulkan ampau, karena kadangkala ampau yang diterimanya bisa dibelikan berbagai kebutuhan yang diinginkan yang kadang sulit ia dapat pada hari-hari biasa, seperti halnya keperluan sekolah, mainan, untuk  jajan dan main interent di warnet, ungkapnya.

Ia mengaku sehari ia bisa mengumpulkan uang terbanyak sekitar Rp 100.000,00 dengan mengunjungi rumah kerabat, tetangga, teman maupun tetangga diseputaran kampong, “Paling sedikit orang ngasih ampau Rp 2.000,00 dan paling banyak ada yang Rp 10.000,00, katanya.

Sementara Mak Ida sipemberi ampau merasa senang bisa membagikan-bagikan sebagian hartanya kepada para bocah meskipun uang yang dibagikan tidak seberapa, namun rasanya senang melihat keceriaan dan semangat anak-anak. “Saya rasa tradisi ini hendaknya dapat terus kita pertahankan, karena si kota-kota besar tradisi semacam ini sudah jarang kita temui, katanya.

Tradisi mencari ampau dan memberi ampau memang menjadi suatu kebiasaan yang unik karena selain dapat meningkatkan jalinan kekeluargaan, kekerabatan dan keakraban antar sesama, kebiasaan ini juga dapat menjadi bahan pelajaran untuk mengenalkan si bocah akan pentingnya menghargai uang yang didapatnya serta mengarahkan mereka untuk senantiasa bersyukur atas apa yang telah didapat.

Momen lebaran memang menjadi hari istimewah yang sayang terlewatkan begitu saja, karena dimomen inilah kita bisa menemui berbagai kebiasaan dan tradisi masyarakat yang unik dan khas. Namun tak jarang momen yang indah ini ternoda oleh kebiasaan orang-orang yang hanya ingin memanfaatkan momen ini dengan mencari keuntungan sebanyak mungkin. Kini kembali pada diri kita masing-masing apakah kita ingin melewatkan hari nan fitri ini dengan melakukan hal-hal terpuji yang akan mendekatkan kita pada Allah SWT ataukah memanfaatkan ajang ini sebagai ajang untuk berfoya-foya dan melakukan hal-hal yang tercela. Semoga kita termasuk orang-orang yang diridhoi Allah SWT.
Sumber: Humas Setda Kab. Belitung