Jum'at, 15 Oktober 2010 04:16

YACHTERS LIHAT PROSESI MUANG JONG DAN HADIRI PERTEMUAN DENGAN BUPATI DESTINASI SAIL

Tanjungpandan---Memasuki hari keempat penyelenggaraan Sail Indonesia 2010, rangkaian acara terus bergulir meramaikan event ini, pada Rabu, Tanggal 13 Oktober 2010 puncak acara mulai terasa dengan digelarnya acara Dinner Host By Bupati Regent sebagai acara keakraban bersama para yachters, segenap jajaran pemkab Belitung serta masyarakat sekitar.

Sebelumnya pada pagi harinya acara ritual muang jong membuka gelaran pelaksanaan Sail Indonesia pada hari ini. Sejak pagi berbagai persiapan pelaksanaan muang jong mulai dipersiapkan. Muang jong atau dikenal dengan istilah selamatan laut memang ritual wajib yang setiap tahunnyaa digelar masayarakat sijuk untuk selamatan disamping sebagai  suguhan wisata yang bisa dinikmati para yachters dan pengunjung pantai Tanjung Kelayang. Selamatan ini menggabungkan ritual suku sawang dengan masyarakat sijuk.

Ritual muang jong biasanya diawali dengan pembacaan mantra, tari ancak, jitun, tari gajah manunggang dan dikahiri dengan tari sampan ngeleng. Selanjutnya ritual dilakukan oleh dukun kampong Kecamatan Sijuk. Kik dukun memulai ritualnya dengan membakar kemenyan, membenamkan telur ke dalam pasir dengan diiringi doa.

Sementara itu replika laut berukuran cukup besar, lengkap dengan layar serta berhias daun kelapa diangkut bersama-sama ke atas kapal yang telah menunggu dipinggir laut. Diiringi dengan doa kapal akhirnya dibawa ketengah laut untuk dibuang.
Ritual ini dilakukan untuk menghubungkan antara roh di laut agar tidak terjadi kesalahpahaman antara penguasa di dasar laut dan darat dengan harapan agar semuanya selamat selama berada di laut. Pemandangan ini tak ayal menarik perhatian para yachters dan pengunjung sekitar Pantai Tanjung Kelayang.

Pada siang harinya kegiatan sail Indonesia 2010 berlanjut pada acara meeting bersama para Bupati, Kadisbudpar daerah destinasi sail Indonesia, serta Yayasan Cinta Bahari Antar Nusa yang digawangi Raymond T Lesmana, di Ruang Pertemuan Hotel Lor In sekitar pukul 13.00 WIB. Tidak ketinggalan para yachter juga turut dilibatkan dalam pertemuan ini.

Berbagai keluhan dan pendapat mereka mewarnai pertemuan ini. Regulasi Custom, Inigration and Quarantine Indonesia menjadi sorotan peserta, mereka ingin tinggal lebih lama di Indonesia, hanya saja terhalang perpanjanganvisa yang pengurusannya dinilai rumit.

Selanjutnya masalah sampah yang banyak dijumpai di tengah laut dan penyediaan mekanik, spare part yacht, infrastruktur seperti pelabuhan wisata milik daerah, GPS, kendala terkait kepala dagang dan nelayan hingga ketersediaan jaringan wi-fi juga menjadi keluhan para yachters.

Menyangkut pelaksanaan acara, para yachter ingin berinteraksi lebih dalam dengan masyarakat lokal, bisa tinggal atau menginap diperumahan penduduk (home stay). Sehingga mereka dapat belajar lebih banyak mengenai kerajinan atau kuliner lokal. Mereka berharap tersedia kursus singkat menganyam dan memasak.

Tidak hanya itu mereka juga menyarankan agar bisa mengajak remaja Indonesia berlayar bersama, setidaknya untuk satu kali perjalanan. Secara keseluruhan para yachter mengaku terkesan berkunjung ke Indonesia, bahkan salah satu yachter Karin Rossat asal Perancis mengaku merasa bersalah apabila tidak mengucapkan terima kasih atas apa yang telah diberikan pemerintah dan masyarakat.

Sumber: Humas Setda Kab. Belitung