Jum'at, 29 Oktober 2010 02:36

PEMBANGUNAN BELITUNG JANGAN HANYA KONTINENTAL

Tanjungpandan —  Pusat Survei Sumber Daya Alam Laut Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (PSSDAL Bakorsurtanal) menyarankan pembangunan di Belitung tidak hanya berorientasi pada konsep kontinental atau daratan, tetapi perlu memperhatikan pengembangan perairan yang juga mendapat dampak dari pembangunan di daratan.

Selain itu, PSSDAL Bakorsurtanal juga menyarankan agar daerah perlindungan laut yang sudah ada dikelola dengan baik dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat atau nelayan setempat, sehingga lebih menjamin terpeliharanya kondisi ekosistem pesisir.

Saran tersebut disampaikan setelah lembaga ini melakukan survei dan pemetaan sumber daya alam (SDA) pesisir dan laut Kabupaten Belitung dan Belitung Timur sepanjang Bulan Juli 2010 berselang. Survei dan pemetaan diawali dengan pengadaan citra satelit, dilanjutkan dengan survei dan pemetaan lapangan oleh dua tim yakni tim survei laut dan tim survei darat.

Hasil survei dan pemetaan disosialisasikan kepada satuan kerja perangkat daerah (SKPD) Kabupaten Belitung dan Belitung Timur di Kantor Bappeda Kabupaten Belitung, Rabu (27/10), disampaikan oleh Kepala Bidang Inventarisasi Sumber Daya Alam Laut PSSDAL Bakorsurtanal Drs M Yulianto, M.Si .

Sosialisasi dibuka Bupati Belitung diwakili Asisten I B Maiya Hasibuan, SH, dihadiri Bupati Belitung Timur diwakili Kabid Fisik dan Prasarana Bappeda Beltim Mathur Noviansyah, ST, M.Eng. Selain itu hadir Kepala PSSDAL Bakorsurtanal Drs Suwahyuono, M.Sc, Kepala Pusat Atlas Bakorsurtanal Drs Suharto Widjojo, MA, dan Kepala Bappeda Belitung diwakili Kabid Fisik dan Prasarana Holmes Pangaribuan, ST, M.Eng.

SDA Pesisir dan Laut
Menurut Yulianto, survei dan pemetaan yang mereka kerjakan bertujuan mengumpulkan data dan informasi mengenai tipologi pantai, kualitas perairan, liputan lahan pesisir, serta ekosistem mangrove, terumbu karang, ikan karang, dan padang lamun. Hasilnya berupa peta tematik masing-masing SDA itu dengan skala 1: 250.000.

Hasil survei dan pemetaan menunjukan, mangrove di kawasan hutan Belitung sudah mengalami perubahan dari ekosistem aslinya. Fenomena ini terlihat dari tidaknya adanya sistem zonasi berdasarkan jenis vegitasi penyusunnya. Di daerah aliran sungai didominasi jenis rhizophora mucronata, di daerah pantai yang tidak ada aliran sungai didominasi jenis avicennia marina.

Sementara itu ekosistem terumbu karang ditemukan hampir di seluruh perairan Belitung, terutama di bagian barat dan utara yang memiliki gugusan pulau-pulau kecil, dengan tipikal umum fringing reef atau terumbu karang tepi. Meski termasuk kriteria sedang, terumbu karang di Pulau Lima, Gosong Ara, Pulau Lengkuas, dan Tanjung Binga, memiliki nilai estetik dan keragaman biota yang cukup tinggi.

Pada tiap lokasi ekosistem terumbu karang ditemukan jenis ikan karang yang bervariasi, antara 15 sampai 60 jenis. Sedangkan tingkat kepadatan ikan per meter persegi tergolong sangat jarang pada semua lokasi.

Adapun ekosistem lamun terdiri dari 8 spesies, yakni thalassia hemprichi, cymodocea rotundata, enhalus acoroides, halophila ovalis, halodule uninervis, h. pinifolia dan syringodium isoetifolium. Pada umumnya, kondisinya bervariasi dari rusak/kurang sehat (tutupan 30-59%) sampai baik (tutupan lebih dari 60%).

Mengingat padang lamun merupakan tempat hidup dan sumber makanan ikan duyung, sementara perairan Belitung merupakan habitat ikan yang dilindungi ini, PSSDAL Bakorsurtanal menggaris bawahi perlunya perhatian terhadap kondisi padang lamun di perairan Belitung.

Menanggapi pertanyaan tentang luputnya timah dari survei dan pemetaan Bakorsurtanal, Yulianto mengatakan sumber daya mineral diluar tupoksi mereka. Sebelumnya mereka pernah mencoba, tetapi data dasarnya sangat sulit diakses. ”Apalagi data potensi,”  jelasnya.

Necara SDAL
Selain Hasil Survei dan Pemetaan SDA Pesisir dan Laut Belitung, juga disampaikan paparan rencana kegiatan Pemetaan Neraca dan Valuasi Ekonomi Sumber Daya Alam Laut (SDAL) yang akan dilaksanakan tahun 2011 di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung oleh Bidang Neraca SDAL PSSDAL Bakorsurtanal.

Menurut Kepala Bidang Necara SDAL PSSDAL Bakorsurtanal Drs Yudi Siswantoro, M.Si, pemetaan ini bertujuan untuk mengetahui gambaran cadangan SDAL dan perubahannya, baik dalam satuan fisik maupun dalam nilai moneter. Dari situ akan diketahui nilai ekonomi dan pilihan pemanfatannya.

Pemetaan akan difokuskan pada Selat Gaspar berikut pesisir timur Pulau Bangka dan pesisir barat Pulau Belitung, dengan pertimbangan selat yang memisahkan Pulau Bangka dan Pulau Belitung ini dijadikan jalur pelayaran alternatif oleh kapal-kapal internasional dan karena itu perlu dihitung necara SDAL berikut valuasi ekonominya.

Hasil pemetaan berupa peta neraca dan valuasi ekonomi SDAL sebagian Propinsi Kepulauan Bangka Belitung skala 1:50.000 sebanyak 14 NLP (nomor lembar peta), meliputi luas SDAL yang rusak atau mengalami degradasi, luas SDAL yang potensial, perubahan peningkatan atau penurunan kualitas SDAL, serta nilai ekonomi SDAL.

Yudi belum dapat memastikan kapan survei lapangan akan dilaksanakan karena akan melihat kondisi cuaca. Namun survei lapangan direncanakan selama 20 hari, terdiri dari dua tim yakni tim fisik dan tim sosial ekonomi (sosek). Total pelaksanaan kegiatan selama 8 bulan.

Atlas
Disamping hasil survei SDAL Belitung serta rencana pemetaan neraca SDAL Bangka Belitung, Bakorsurtanal juga mensosialisasikan produk Pusat Atlas. Sosialisasi disampaikan oleh Kepala Bidang Atlas Sumber Daya dan Atlas Publik Dra Trini Hastuti, M.Sc, didampingi Kepala Bidang Basis Data Atlas Ir Sigit Purnomo, M.Si.

Trini Hastuti menjelaskan, hingga saat ini Bidang Basis Data Atlas telah memproduksi 33 peta dinding propinsi dan 30 peta dinding kabupaten. Sesuai dengan tugasnya, bidang ini juga telah memproduksi atlas global mapping, atlas elektronik, sistem informasi atlas nasional. Selain itu bidang ini juga melaksanakan bimbingan teknis pembuatan peta, seperti yang sedang berlangsung di Kabupaten Belitung.

Sementara itu, Bidang Atlas Sumber Daya dan Atlas Publik yang dia pimpin, telah memproduksi atlas from space pariwisata, atlas Indonesia from space, atlas tematik, atlas tematik manuskrip, atlas kemiskinan, atlas bentangan lahan Sumatera dan Jawa, atlas kebencanaan, atlas multimedia, traveling atlas berbasis web service, atlas nasional I dan II, dan peta tactile untuk tunanetra.

Sebagian dari produk atlas ini, jelasnya, merupakan hasil kerjasama dengan pemerintah propinsi dan pemerintah kabupaten, seperti Atlas Pariwisata Gorontalo dan Atlas Pariwisata Kepulauan Bangka Belitung. Sedangkan atlas nasional merupakan atlas nasional pertama yang dimiliki Indonesia sejak merdeka. ( (syafei)

Sumber: Humas Setda Kab. Belitung