Jum'at, 31 Desember 2010 10:02

PUG WUJUDKAN KESETARAAN DAN KEADILAN GENDER

Tanjungpandan--Sebelum kita berbicara lebih  jauh tentang arti pengarusutamaan gender yang seringkali kita dengar dalam beberapa kesempatan khususnya berkaitan dengan masalah-masalah perlindungan terhadap kaum perempuan, mungkin ada baiknya kita memahami apa itu gender. Karena seringkali ada kesalapahaman yang terjadi ketika kita ditanya mengenai apa itu gender?? kadangkala pengertian gender sering diidentikan  dengan jenis kelamin. Padahal jika dikaji lebih lanjut gender sangatlah berbeda dengan jenis kelamin, karena gender bukanlah seputar masalah jenis kelamin apalagi jika kita hubungkan dengan pengarusutamaan gender, hal ini tidak hanya sebatas kesetaraan antara kaum laki-laki dan perempuan, namun lebih dari itu gender merupakan bentukan sosial  yang mana dalam hal ini menyangkut perbedaan peran, fungsi dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan sebagai hasil konstruksi sosial dan pada umumnya peran gender ini sendiri dapat diubah ataupun berubah sesuai dengan perkembangan waktu.

Penjelasan diatas mungkin baru separuh mewakili pemahaman gender secara lebih jauh, karena pada prinsipnya berbicara lebih jauh tentang gender dapat menagcu pada beberapa hal dan beberapa foktor yang berhubungan erat dan mempengaruhi terbentuknya istilah pengarusutamaan gender yang menjadi tema utama dalam pelatihan SDM Pengarusutamaan Gender (PUG) pada kesempatan ini. Oleh karenanya tekait pentingnya pembelajaraan PUG ini secara lebih jauh, maka pelatihan SDM PUG ini dirasa perlu dilakukan secara berkesinambungan agar segenap aparat pemerintahan dapat memahami lebih jauh istilah dimaksud. Oleh karenanya dalam program perencanaan pembangunan diharapkan agar dapat menyusun dan melaksanakan program yang responsif gender, yang mempertimbangkan adanya kebijakan PUG.

Dalam salah satu penjelasan yang disampaikan Drs Darmawan, M.Si didampingi rekannya Siti Mardiah, Spt.M.Si narasumber dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI mengatakan bahwa manfaat penyelenggaraan PUG ini yakni, agar dapat mengidentifikasi apakah laki-laki dan perempuan dapat memperoleh akses yang sama kepada sumberdaya pembangunan, berpartisipasi yang sama dalam proses pembangunan, termasuk proses pengambilan keputusan, memiliki kontrol yang sama atas sumber daya pembangunan, dan memperoleh manfaat yang sama dari hasil pembangunan.

Selanjutnya tindak lanjut Implementasi PUG sebagaimana diamanatkan dalam Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 bahwa PUG merupakan strategi untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan serta permasalahan perempuan dan laki-laki dalam seluruh pembangunan di berbagai bidang kehidupan, mulai tahap perencanaan perumusan kebijakan, pelaksanaan, evaluasi dan pemantauan.

PUG merupakan Strategi pengintegrasian pengalaman, aspirasi, kebutuhan, dan permasalahan laki-laki dan perempuan, anak laki-laki dan perempuan, penyandang cacat dengan memperhatikan kelas (kaya/miskin), lokasi, usia, etnisitas ke dalam perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari seluruh kebijakan, program dan kegiatan di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender.

Selanjutnya seperti dijelaskan nara sumber dalam penyusunan program berbasis PUG yang menjadi salah satu faktor penting yakni tersedianya data terpilah untuk mengidentifikasi masalah, dan dapat dirinci menurut jenis kelamin, wilayah, status sosial ekonomi, waktu, yang dalam analisisnya menggunakan analisa gender. Bentuk data terpilah bisa kuantitatif dan kualitatif.

Dalam proses perencanaan anggaran yang responsif gender pada setiap lingkup pemerintah, perlu keterlibatan (partisipasi) perempuan dan laki-laki secara aktif dan secara bersama-sama mereka menetapkan prioritas program dan kegiatan pembangunan. Anggaran responsif gender penggunaannya diarahkan untuk membiayai program/kegiatan pembangunan yang dapat memberikan manfaat secara adil bagi perempuan dan laki-laki dalam berbagai bidang pembangunan. Anggaran responsif gender dialokasikan untuk membiayai kebutuhan-kebutuhan praktis gender dan atau kebutuhan strategis gender yang dapat diakses oleh perempuan dan laki-laki

Pemahaman PUG dalam hal ini bukan berarti para kaum perempuan ingin mendapatkan kesetaraan dalam artian melanggar kodratnya sebagai perempuan yang memang sudah tercatat dalam ajaran agama islam, namun lebih jauhnya mengacu pada kesetaraan dalam memperoleh hak dan kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki untuk berperan dan ikut berpartisipasi dalam program pembangunan nasional, jangan sampai ada pembedaan, kesenjangan maupun pembedaan yang terjadi antara kaum laki-laki dan perempuan.

Oleh karenanya pelaksanakan pelatihan PUG ini sendiri bertujuan untuk memberikan acuan bagi aparat pemerintah daerah untuk mengintegrasikan gender pada perencanaan, pelaksanaan, pengganggaran, monitoring atas kebijakan program kegiatan pembangunan daerah guna mewujudkan perencanaan pembangunan yang berperspektif gender, pengelolaan anggaran daerah yang responsif gender.
Dalam penutupan acara yang berlangsung pada Rabu, 29 Desember 2010 di Hotel Grand Pelangi, Asisten Deputi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Dra Hj Sri Pardina Pudiastuti, M.Sc berharap agar para peserta dapat mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan yang didapat selama  3 hari mengikuti pelatihan SDM PUG ini. Beliau menilai para peserta pada umumnya dapat mengikuti materi dengan baik dan memiliki kemauan untuk senantiasa aktif, baik dalam mengikuti materi yang disampaikan maupun dalam sesi diskusi. “ Saya ingin para peserta dapat menularkan ilmu yang didapat kepada teman-teman lainnya di Satker masing-masing ”, ungkapnya.

Sementara Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintah Desa, Perempuan dan KB Drs Hotmaria Ida menyampaikan rasa bangga dan terima kasihnya kepada nara sumber yang telah berpartisipasi dalam penyelenggaraan pelatihan ini. “ Semoga ke depan kita dapat bertemu kembali dalam kegiatan-kegiatan lainnya dan kami akan senantiasa membantu jika suatu saat akan diselenggarakan pelatihan serupa”, jelasnya.

Mudah-mudahan gong program PUG ini dapat segera kami implementasikan pada penyusunan anggaran tahun 2012 mendatang, mengingat tahun 2011 ini penggangaran sudah selesai dibahas. Kepada para peserta tak lupa saya ucapkan “selamat” telah mengikuti pembekalan 13 materi pelatihan ini dengan baik. Saya juga berharap kepada masing-masing peserta agar dapat melaporkan atau menceritakan ilmu pengetahuan yang didapat selama mengikuti pelatihan ini agar dapat didiskusikan diterapkan di satker masing-masing.

Diakhir acara berlangsung pula penyerahan hadiah kepada kelompok terbaik dan peserta terbaik. Dari keempat kelompok diantaranya, kelompok Pelangi, kelompok Asoka, kelompok Berandun. Predikat kelompok terbaik akhirnya diraih kelompok kepada kelompok garuda yang diketuai Saiman dan peserta terbaik diraih Akhirin, A.Md perwakilan peserta dari Kecamatan Selat Nasik. Acara juga diisi dengan ramah tamah dan sesi foto bersama.
Sumber: Humas Setda Kab. Belitung