Rabu, 2 Maret 2011 09:53

MELASTI AWALI RITUAL HARI RAYA NYEPI DUSUN BALITUNG

Sijuk --- Serombongan umat Hindu  Dusun Balitung berduyun-duyun mendatangi Pantai Marina hendak merayakan Melasti, yang merupakan rangkaian awal dari Hari Raya Nyepi pada Sabtu tanggal 5 Maret 2011. Umat Hindu di Bali berduyun-duyun mendatangi laut dan sumber air lainnya untuk nganyudang malaning gumi ngamit tirta amertha, yaitu menghanyutkan segala kotoran dalam kehidupan dan mengambil air dari laut, sungai, danau, dan sumber lainnya sebagai simbol penyucian diri, batin, dengan memohon kepada Sang Sumber Kehidupan.

Iring-iringan tandu yang berisi ubarampe sesaji, beberapa senjata adat, umbul-umbul dan umat yang membawa sesaji, menjadikan aroma kesakralan semakin kuat terasa. Rangkaian bunga, tumpeng, buah-buahan dan ubarampe sesaji ditata rapi dibibir pantai, disisi kiri merupakan sesaji dari beberapa pura, sedangkan disisi kanan adalah sesaji dari umat Hindu yang hadir. Berbagai macam tumpeng ada diatas meja saji, mulai dari yang berwarna putih, kuning, kuning putih, merah, bahkan hitam ada disini.

I Wayan Suta selaku ketua adat Dusun Balitung sekaligus ketua pelaksana acara Melasti, dalam laporannya menjelaskan beberapa makna dari Hari Raya Nyepi. “Tujuan dari Hari Raya Nyepi ini adalah untuk menyepikan diri, melepaskan kepenatan dalam setahun dan banyak merenung serta mengendalikan diri. Dalam Hari Raya Nyepi, umat Hindu melakukan Catur Brata Penyepian, yaitu Amati Geni  yang artinya tidak menyalakan api secara lahir (tidak merokok, tidak menyalakan kompor, tidak menyalakan lampu, dll) dan secara batin dimaksudkan untuk mengekang dan mengendalikan diri dari hal-hal yang bersifat negatif seperti mematikan api amarah.  Kedua, Amati Karya yaitu tidak bekerja secara lahir dan secara batin menghentikan kegiatan jasmani dengan merenung/mawas diri. Ketiga, Amati Lelungan yaitu tidak bepergian karena semua orang melakukan Tapa Brata Penyepian dan seyogyanya kita tidak menganggu ketenangan orang lain.
Keempat, Amati Lelanguan yaitu tidak mengadakan hiburan/rekreasi dan bersenang-senang.Semua umat Hindu harus merenung dan mawas diri” jelas I Wayan. I Wayan juga menambahkan, tema dari Melasti kali ini adalah “Promosi Wisata Hari Raya Nyepi di Negeri Laskar Pelangi”. Tema ini dalam rangka mendukung kepariwisataan di Pemerintah Kab. Belitung.

Selanjutnya, sebelum Bupati Belitung menyampaikan sambutannya acara diawali dengan penyerahan bantuan berupa kapal pariwisata dari Kementerian Pariwisata melalui PNPM Mandiri yang secara simbolis diberikan langsung kepada Bpk Marsidi.
 
Sementara itu dalam sambutannya, Bupati Belitung Ir H Darmansyah Husein tidak lupa mengucapkan selamat kepada yang merayakan. Darmansyah mengatakan, sesuai dengan maknanya Hari Raya Nyepi diharapkan kita sebagai makhluk Sang Hyang Widhi dapat saling menjaga keharmonisan dan merenungkan apa yang telah kita perbuat. Menanggapi tema Melasti kali ini, Bupati mengatakan cita-cita Pemerintah Kabupaten Belitung untuk menjadikan Belitung sebagai destinasi wisata Internasional tentunya perlu adanya dukungan dari semua pihak dalam pengembangannya, semua harus bersifat menyeluruh jangan terpotong-potong. Dukungan tersebut tidak lain berasal dari masyarakat itu sendiri.

Setelah sambutan Bupati Belitung berakhir, Tarian Barong ikut mewarnai suasana saat itu. Barulah  ritual upacara dimulai dengan berdoa bersama dan labuhan. Dimana labuhan ini mengarak semua sesajen yang ada diatas meja pura ke bibir pantai untuk dilempar ke laut sebagai symbol penyucian alam semesta.

Adapun yang hadir dalam acara, Wakil Bupati Sahani Saleh Sos, perwakilan DPRD Kab. Belitung, Dandim 0414 Belitung, Kapolres Belitung, perwakilan Danlanud, Camat Sijuk, Kepala Desa, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, Masyarakat Dusun Balitung serta undangan lainnya.
Sumber: Humas Setda Kab. Belitung