Rabu, 13 Maret 2019 13:00

Maras Taun, Uniknya Ungkapan Rasa Syukur Masyarakat Aik Kundor

MEMBALONG -- Sebagai wujud rasa syukur atas  limpahan rezeki dan kebaikan selama setahun, masyarakat  Belitung bertani menggelar  upacara maras taun  yang  dipimpin seorang dukun kampung yang merupakan Kepala Kampung.  Di dusun Aik Kundor, desa Membalong, Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung, maras taun digelar pada  Selasa (12/2) yang dipimpin oleh Suhadi (48) yang merupakan Kik Dukun Dusun Aik Kundor.
 
Menurut Suhadi, selain ungkapan rasa syukur, maras taun juga bertujuan untuk memohon keselamatan kampung. Tata cara maras taun  pun terbilang unik.  Seperti yang dilakukan Kik Dukun  Aik Kundor ketika memanjatkan doa selamat diatas wadah yang berisi tepung beras (tepung tawar) dan daun selasih (Ocimum basilicum) sebagai simbol keselamatan.  Sementara dikampung lain biasanya digunakan daun neruse (gandarusa) .   Berbagi keselamatan, demikian yang terlihat ketika simbol keselamatan warga mengambil segenggam daun selasih, tepung tawar yang telah didoakan. Lalu, warga membawa pulang ke rumah, ditaburkan di sudut halaman dan ruang tamu dan kamar hingga menaburkan ke areal  bercocok tanam.
 
“Tepung ini juga biasanya dibawa ke kebun warga untuk ditaburkan, tujuannya untuk membunuh hama agar tanaman menjadi subur,” kata Suhadi.  Maras taun memang identik dengan tradisi bercocok tanam. Nilai kearifan ini selaras dengan upaya Pemerintah Kabupaten Belitung memasyarakatkan tradisi bercocok tanam dimana sebelumnya Bupati Sahani Saleh dan Wakil Bupati Isyak Meirobie  membagikan bibit tanam, agar warga bisa mengolah lahan produktif.
 
Selepas ritual, Kik Dukun memegang lepat ketan. Ditariknya ikatan yang melingkar pada penganan yang berbungkus daun pandan itu.  “ Makna (filosofi)  menarik tali lepat ini adalah melepaskan tahun lalu dan saat mengikat tali lepat berarti menyambut tahun sekarang,” terang Suhadi.
 
Setelah maras taun, selama tiga hari warga tidak melakukan aktifitas seperti berkebun, mencari ikan, menebas rumput serta kegiatan lainnya. Sayangnya, bentuk kearifan ini, kini semakin memudar. “Kalau dulu warga tidak bekerja selama tiga hari kedepan setelah Maras Taun, tapi sekarang tidak beraktifitas paling hanya dari sore sampai ke malam”, terang Suhadi.
 
Diakhir acara, para warga disuguhi sajian “lepat ketan” dengan kuah gula aren yang dihasilkan dari tanaman warga.  Nuansa kebersamaan pun terasa kala makan bedulang dihidangkan dengan sajian khas kampung seperti gangan darat, gangan ikan, gangan nangka ikan asin, opor ayam dan tak ketinggalan sambal serai. 
Sumber: Siti Rofiqoh/IKP